Langsung ke konten utama

Sejarah Hukum Laut dan Konvensi Hukum Laut PBB Tahun 1982

 Sejarah Hukum Laut dan Konvensi Hukum Laut PBB Tahun 1982
            Laut adakalanya merupakan batas suatu negara dengan negara lain dengan titik batas yang ditentukan melalui ekstradisi bilateral atau multilateral yang berarti pula merupkan batas kekuasaan suatu negara, sejauh garis terluar batas wilayahnya.[1]
            Dalam perkembangan hukum internasional, batas kekuasaan yang merupakan batas wilayah suatu negara sangat dipegng erat, pelanggaran terhadap wilayah suatu negara dapat berakibat fatal bahkan dapat menimbulkan kerenggangan hubungan dan apabila berlarut-larut akan berakibat peperangan. Dengan batas wilayah dituntut hubungan yang baik bagi setiap negara dan perjanjian-perjanjian yang diciptakan perlu ditaati agar tidak merugikan kepentingan negara lain.[2]
            Penentuan batas wilayah yang meliputi kelautan di dalam pembuatannya selalu memperhatikan bentuk konsekuensi dan pertimbangan lain sehingga  kepentingannya sama-sama berjalan.[3]
            Penandatanganan akhir pada tanggal 10 Desember 1982, di Montego Bay – Jamaica, oleh sejumlah besar negara (tidak kurang dari 118 negara) yang terwakili dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Ketiga tentang Hukum Laut 1973-1982 (UNCLOS) guna menyusun suatu ketentuan hukum internasional yang komprehensif berkaitan dengan hukum laut di bawah judul Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hukum Laut, mungkin merupakan perkembangan paling penting dalam keseluruhan sejarah ketentuan hukum internasional berkenaan dengan lautan bebas. Dalam kaitan ini, yang perlu di kemukakan hanyalah bahwa sebagian terbesar dari Konvensi, yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang cukup penting di dalamnya, meskipun hukum yang lama banyak berubah karenanya, saat ini tampaknya menuntut konsensus umum dari masyarakat internasional.[4]


[1] . Joko Subagyo.1993.Hukum Laut Indonesia. Rineka Cipta. Jakarta...1993.Hukum Laut Indonesia. Rineka Cipta. Jakarta. Hal. 6
[2] Ibid hal. 6
[3] P. Joko subagyo, S.H. 1993 Hukum Laut Indonesia, Jakarta. Rineka Cipta. Hlm.1
[4] J.G. Starke 2012 Pengantar Hukum Internasional. Sinar Grafika, Jakarta Hlm.322

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH JUDICIAL REVIEW (KASUS MARBURY VS MADISON TAHUN 1803)

  SEJARAH   JUDICIAL   REVIEW (KASUS MARBURY VS MADISON TAHUN 1803)   Lembaga pengujian konstitusional yang sudah mendunia dan seperti yang kita kenal saat ini bermula dari putusan Supreme Court (Mahkamah Agung) AS dalam kasus Marbury versus Madison pada tahun 1803. Sejak saat itu “wabah” pengujian konstitusional atau yang populer disebut judicial review ini mulai menyebar dan akhirnya mendapat kedudukan yang penting dalam dunia hukum seperti sekarang ini. Begitu fenomenal dan luar biasanya putusan “Marbury vs Madison” ini, William H. Rehnquist menyebut kasus ini sebagai “most famous case ever decided by the US Supreme Court.” [1]   Selain itu para pakar juga menyebut kasus ini dengan berbagai sebutan/istilah, antara lain ‘most brilliant innovation’ atau ‘landmark decision’ bahkan ada pula yang menyebutnya dengan nada penuh pujian sebagai ‘single most important decision in American Constitutional Law.’ [2] Kasus ini sendiri bermula pada saat John Ad...

PERBEDAAN KONSEP PELANGGARAN HAM DAN KEJAHATAN BIASA DALAM PERSPEKTIF HUKUM DAN HAM INTERNASIONAL

  PENDAHULUAN Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia. [1] .Oleh karenanya meskipun setiap orang terlahir dengan warna kulit, jenis kelamin, bahasa, budaya dan kewarganegaraan berbeda tetap memiliki hak-hak yang sifatnya universal.Selain sifatnya yang universal, hak-hak itu tidak dapat dicabut (inalienable) , karena hak-hak tersebut melekat kepada dirinya sebagai manusia.Akan tetapi persoalan hak asasi manusia baru mendapat perhatian ketika pengimplementasikannya dalam kehidupan bersama manusia. Pemikiran tentang keselarasan hidup dalam masyarakat dikemukakan oleh Aristoteles pada abad ke- 4 SM, bahwa untuk mencapai tujuan hidup manusia membutuhkan manusia lain, sehingga keberadaan masyarakat mutlak agar individu Manusia dapat memiliki arti dan berkembang. [2] ...

POTENSI HUBUNGAN PERMINYAKAN INDONESIA DENGAN ARAB SAUDI

        Potensi Perminyakan  Indonesia Minyak bumi memiliki daya tarik tersendiri diantaranya ialah karena tersebarnya sumber-sumber penghasil minyak itu sendiri dan merupakan sumber energi utama bagi setiap negara di dunia yang memegang peranan sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Setiap negara memiliki ciri khas tersendiri dalam hal kualitas minyak mentah ini. Dalam perdagangan internasional dikenal beberapa kualitas minyak mentah yang ada di dunia dengan jenisnya, seperti halnya barang dagang yang lain maka minyak mentah juga mempunyai kata sandang yaitu berkualitas rendah sampai ke tinggi. Peran minyak mentah tidak dapat disangkal lagi bahwa komoditas tersebut mempengaruhi semua kegiatan manusia, antara lain meliputi transportasi, kelistrikan, industri, rumah tangga dan sebagainya. Sebagai bahan dasar pembuat berbagai macam bahan bakar seperti avtur, bensin, kerosin (minyak tanah), diesel, bahan bakar industri, minyak pelumas, lilin paraffin d...